Lewat Kegagalan masa lalu,, saya jadi seperti sekarang ini…
24 Mei 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in CURHAT
Tulisan ini menceritakan tentang kegagalan-kegagalan pas mau masuk SMA dan pas keluar SMA atau pas mau Kuliah yang LUAR BIASA,,, penuh dengan hikmah yang membuat saya jadi pribadi yang “seperti ini sekarang (yang pokoknya lebih baik lagi deh)”
Impian saya ketika SMA dulu, adalah masuk UPI jurusan pendidikan Jepang, dan berharap bisa melanjutkan study dan bekerja di Jepang. Impian untuk pergi ke Jepang sampai saat ini, masih ada, namun dengan tujuan yang berbeda, berbulan madu dengan suami tercinta kelak, atau sekedar berlibur. hehehehe
Lucu memang, namun tidak ada sesuatu yang mustahil di dunia ini. kata-kata yang selalu saya ingat adalah GET YOUR DREAM!! HIGHER AND HIGHER! “AWALNYA CITA-CITA BESAR ITU DIPANDANG TIDAK MUNGKIN TERJADI (IMPOSSIBLE),LALU MUNGKIN (PROBABLE) DAN KEMUDIAN SERINGKALI TERJADI!” –Christopher Reeve-
“Mimpi Hari Ini Adalah keberhasilan Esok!”
-Hasan Al-Banna_
“IF YOU CAN DREAM IT,
YOU CAN DO IT!
Saya sering mengalami kegagalan dalam hidup ini, kegagalan yang sampai saat ini, selalu saya ingat adalah ketika gagal masuk pesantren Husnul Khatimah di Kuningan.
Pukulan terbesar, yang membuat ayah saya sedih sampai menitikkan air mata. Peristiwa yang menyedihkan, namun memberikan banyak hikmah. Anak seusia saya, mungkin sedikit yang menginginkan masuk pasantren. Apalagi backround saya dari SMP negeri. Salah satu faktor kegagalannya mungkin disebabkan, karena saya berasal dari SMP Negeri, yang sedikit menerima pengetahuan-pengetahuan agama islam. Hafalan Al-Qur’an saya pun saat itu masih kurang dari 1 Juz. Sesuatu yang baik menurut kita, belum tentu baik dihadapan Allah. Untungnya saja, saat itu saya tetap mengisi formulir pendaftaran masuk SMA negeri. Saat itu pilihan pertama saya adalah SMAN 10 BDG, dan pilihan keduanya SMAN 25 BDG. Awalnya, saya sempat tidak yakin bisa memasuki kedua SMA tersebut, untuk mengantisipasinya saya juga mendaftarkan diri di SMA Al-Ghifari.
Hidup itu memang sebuah pilihan. Dan Allah tau mana yang terbaik untuk setiap hambanya.
Saya pun berhasil masuk SMA 10 BDG, yang cukup favorit di kota Bandung ini. Ternyata, di SMA 10 Bdg lah, saya menemukan jati diri, dan memahami arti sebuah perjuangan.
Di SMA inilah, saya merasakan arti persahabatan, perjuangan, dan prestasi yang cukup membanggakan dan menggembirakan, walau bukan prestasi akademik. Saat SMA dulu, saya mengikuti beberapa kegiatan, diantaranya, IRMA LUQMAN (Rohis/DKM), KASEPUH (Kelompok Angklung Sepuluh), karate, dan KIR Bahasa Jepang. Di kegiatan-kegiatan inilah proses pencarian jati diri berlangsung. Walau tidak berhasil masuk pesantren, tapi gaya saya saat SMA seperti anak pesantrenan, bergaul dengan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Dan banyak mengikuti berbagai kegiatan yang positif dan menumbuhkan kedewasaan. Pengetahuan agama, skill berorganisasi, dan cara memanage sebuah acara yang berskala besar saya dapatkan disini. MASA YANG PALING INDAH ITU ADALAH MASA-MASA DI SEKOLAH, terutama di SMA.
“SOUSA KANASHIMI WO YASASHISHA NI JIBUN RASISHA WO CHIKARA NI !”
“UBAHLAH KESEDIHAN JADI KEGEMBIRAAN, UBAHLAH KEUNIKAN JADI KEKUATAN!” kata-kata inilah, yang selalu menjadi motivasi saya. Ternyata dibalik kesedihan banyak sekali kebahagiaan.
Saat SMA dulu, saya mempunyai sahabat-sahabat yang setia dikala senang dan sedih. Bisa dibilang sahabat sejatilah, walau saat ini sudah jarang berkomunikasi. Tapi saya yakin, kelak dikemudian hari, Allah akan mempertemukan kembali. Kesibukanlah yang memisahkan kita. Apalagi di antara mereka ada yang melanjutkan kuliah di Yogya dan ada pula yang sudah berumah tangga.
Kejadian yang selalu saya ingat dan membekas dalam hati saya adalah ketika terjadi sebuah pertengkaran diantara kita disaat-saat terakhir kebersamaan, yaitu ketika saya marah kepada mereka semua karena mereka tidak memberikan hadiah saat saya berulang tahun. Padahal, ketika mereka semua ulang tahun, sayalah orang yang senantiasa merencanakan kejutan-kejutan, dan memberikan kado.
Tapi, ketika saya yang berulang tahun, mereka tidak memberikan hal yang sama kepada saya. Peristiwa itulah, yang akhirnya membuat saya sadar, bahwa kita harus ikhlas dengan apa yang sudah kita lakukan dan berikan kepada orang lain.
Jangan terlalu berharap pada manusia, cukuplah Allah yang membalasnya. Peristiwa ini, menggambarkan diri saya yang sebenarnya. Yang masih bersikap kekanak-kanakan. Peristiwa ini, benar menyadarkan saya bahwa kado terbaik dalam hidup ini adalah sebuah persahabatan.
Kegagalan lain, yang memberikan hikmah yang luar biasa adalah ketika saya gagal SPMB di tahun 2007.
Saat itu, keinginan saya untuk melanjutkan kuliah di UPI jurusan Bahasa Jepang gagal. Tapi, anehnya kekecewaan yang saya alami tidak mendalam. Karena saya merasa usaha yang saya lakukan untuk berhasil SPMB kurang. Tidak di dukung dengan proses belajar yang baik. Banyak yang bilang, kalau SPMB faktor keberuntungan. Tahun itu saya masih gengsi mendaftarkan diri di UIN, karena selama ini, informasi yang saya dapatkan mengenai UIN adalah info-info miringnya saja. Tahun itu pun, saya sengaja menunda-nunda waktu untuk mencari informasi pendaftaran UIN. Dan akhirnya, saya pun bingung harus berkuliah dimana ketika pengumuman SPMB di buka di surat kabar. Ternyata nama saya tidak ada di koran tersebut.
Akhirnya, saya mencoba mengikuti saran Abi, untuk mencoba mengikuti tes masuk Ma’had Al-imarot. Tempat belajar bahasa Arab, setingkat perguruan tinggi. Sungguh tidak disangka-sangka, ternyata saya bisa masuk ma’had Al-imarot di mustawa awwal (kelas satu). Loncat kelas. Padahal seharusnya, saya belajar dulu di kelas tamhidi (persiapan). Hari pertama kuliah, sungguh membuat saya bingung. Dosen yang biasa di sebut ustadzah mengantar proses pembelajaran dengan bahasa Arab. Pertemuan pertama, membuat saya malu pada diri sendiri, yang harus memperkenalkan diri dengan menggunakan bahasa Arab, padahal saat itu kosakata yang saya ingat hanya bahasa Jepang. Saya pun, berdiri di depan kelas dengan kikuk, dan jadi bahan tertawaan mahasiswi (banat) lain yang notabene berasal dari pesantren yang kemampuan bahasa Arabnya sudah tidak bisa diragukan lagi.
Pelajaran yang saya terima di ma’had Al-’Imarot semakin lama, semakin sulit. Penyampaian materi dengan menggunakan bahasa Arab, membuat saya semakin bingung. Apalagi, komunikasi pun harus menggunakan bahasa Arab. Hampir setiap hari, saya mendapatkan kartu pelanggaran, karena berbahasa selain bahasa Arab.
Ternyata, ada mata-mata (jasusah) yang setiap harinya melaporkan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh banat yang melanggar. Kartu pelanggaran dikalungkan dan harus dipakai selama proses perkuliahan dan harus dibawa kemana-mana.
Hal inilah yang membuat setiap banat yang melanggar malu, kerena menjadi tontonan bagi banat-banat lainnya. Enam bulan pertama, berhasil saya lalui. Kemampuan bahasa Arab pun sudah mulai saya miliki.
Hasil ujian di semester pertama, saya mendapatkan nilai jayyid (baik). Saya pun berhasil naik kelas ke mustawa tsani (kelas dua).
Tantangan pun semakin sulit untuk saya lewati. Apalagi ustadzah-ustadzah yang mengajar dikelas, sangat tegas dan cukup menyeramkan. Mereka semua lulusan Al-Azhar Mesir. Yang kemampuan bahasa Arabnya sudah sangat hebat. Sering kali, saya merasa menjadi orang yang paling bodoh. Tapi, itulah yang membuat saya bertahan di ma’had Al-’Imarot, saya termotivasi oleh mereka untuk melanjutkan study ke Kairo Mesir.
Tibalah di akhir semester. Ujian pun sudah menanti di depan mata. Saat itu saya merasa sudah tidak mampu lagi untuk bertahan di Ma’had Al’Imarot, soal ujian pun tidak saya kerjakan dengan maksimal.
Di tahun 2008 saya mencoba untuk mengikuti SNMPTN dengan jurusan yang berbeda pada tahun sebelumnya, setahun yang lalu memilih bahasa Jepang, dan di tahun kedua memilih bahasa Arab. Impian saya mudah berubah-ubah dalam waktu yang sangat singkat.
Tapi, ternyata lagi-lagi saya mengalami kegagalan. Dalam waktu yang bersamaan, saya pun mengikuti tes tulis masuk UIN. Jujur, saat itu, saya bingung harus memilih jurusan apa di UIN. Masuk ke UIN nya saja, saya kurang berminat. Satu hal yang saya ingat adalah ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kantor Al-Jami’ah, ada seorang pria di meja informasi yang menawarkan sebuah jurusan. ”Bimbingan Penyuluhan Islam”, itulah jurusan yang akhirnya menjadi jurusan pertama yang saya pilih.
Sebenarnya, Abi menyuruh saya untuk memilih jurusan PAI , bahasa Arab, atau muamalah. Tapi saat itu, saya enggan untuk berlama-lama menentukkan pilihan. Pengumuman kelulusan UIN pun dibuka, ternyata Allah menghendaki saya untuk melanjutkan kuliah di UIN Sunan Gunung Djati BDG, yang selama ini, sama sekali tidak saya inginkan. Proses registrasi, dan persiapan OPAK pun saya ikuti dengan baik. Kesibukkan di awal perkuliahan, membuat saya menelantarkan study di ma’had Al-’Imarot. Awalnya, saya berencana untuk menjalani keduanya, tapi ternyata, saya gagal masuk mustawa tsalist (kelas tiga). Saya harus mengulang selama satu semester di mustawa tsani (kelas dua). Jujur saya sangat malu, dan malas jika harus mengulang. Saya pun, coba mengkomunikasikan masalah ini kepada ummi dan abi mengenai kegagalan di ma’had Al-’Imarot dan perasaan tidak nyaman yang selama ini saya alami ketika belajar di ma’had Al-’Imarot.
Ummi dan abi pun akhirnya, menyetujui keputusan saya untuk fokus berkuliah di UIN. Hari-hari OPAK pun, saya lalui dengan baik. Hal berkesan saat OPAK adalah ketika Ibu Marwah Daud Ibrahim penulis buku, ”mengelola hidup dan merencanakan masa depan” memberikan materi yang sungguh luar biasa.
Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik. Dengan bersyukur, segalanya jadi lebih bermakna. Allah tahu mana yang terbaik untuk setiap hambaNya. Allah menghendaki saya masuk UIN mungkin dikarenakan kondisi keuangan ummi dan Abi saat itu sedang menipis. Dengan biaya UIN yang sangat murah, cukup meringankan beban ummi dan Abi. Saya berusaha untuk menjadi yang terbaik dan menjadi kebanggaan bagi mereka berdua. Semester pertama, saya berhasil mendapatkan IP tertinggi di kelas. Saya sangat bahagia saat itu, karena di semester berikutnya saya bisa mendapatkan kesempatan beasiswa.
Banyak hal, yang sudah saya alami. Mulai dari kebahagiaan, kesedihan, kekalutan, kebimbangan, kelucuan, dan keanehan. Dan semua itu membuat hidup saya lebih berwarna.
Bersambung,,,